04/12/10

KAJIAN AYAT : SURAT AL IMRAN AYAT 110 keutamaan umat islam dari umat yang lain


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Ada banyak sekali kekeliruan dalam menafsirkan atau mengartikan maksud dari suatu ayat dalam Al-Qur’an karena pemilihan kata dan kalimat dalam Al-Qur’an yang begitu indah dan bahasa tuhan yang begitu luar biasa serta cara pembacaan yang terpotong-potong sehingga salah atau kurang tepat dalam penafsiran atau pengartiannya. Saya mencoba untuk menyusun sebuah makalah di mana makalah saya akan sedikit menerangkan penafsiran tentang surat Al Imran ayat 110 tentang keutamaan umat islam dari umat yang lain.
Surah Ali 'Imran (Arab: عمرانآل , Āli-'Imrān, "Keluarga 'Imran") adalah surah ke-3 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah. Dinamakan Ali 'Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran, ibu Nabi Isa. Surah Al-Baqarah dan Ali 'Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut apa yang disampaikan Al-Qur'an disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa, kedatangan Nabi Muhammad dan sebagainya.

B.     Tujuan penulisan
Adapun yang menjadi tujuan dibuatnya makalah ini yaitu:
1.      Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam.
2.      Diharapkan dapat menjadi referensi dalam pemahaman terhadap surat Al Imran terutama ayat 110 tentang keutamaan umat islam dari umat yang lain.
3.      Memahami apa yang menjadi penyebab ummat islam menjadi ummat yang utama dari ummat yang lain.
4.      Dapat mengaplikasikan isi dari ayat bersangkutan dalam kehidupan sehari-hari.



















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Surat Ali Imran : 110

Kelebihan umat islam dari umat yang lain

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَلَوْءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرَهُمُ الْفَاسِقُونَ {110}

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”

 Terjemah Al-Qur’an secara Lafzhiyah
أُخْرِجَتْ
ukhrizat
Dikeluarkan
اُمَّةٍ
ummatin
ummat
خَيْرَ
khaira
Sebaik-baik
         كُنْتُمْ
kuntum
kamu adalah
وَتَنْهَوْنَ
watanhauna
dan kamu mencegah
بِالْمَعْرُوْفِ
bilma’ruufi
dengan /kepada kebaikan
تَأْمُرُونَ
ta’muruuna
kamu menyuruh
لِلنَّاسِ
linnaasi
bagi /untuk manusia
وَلَوْ اٰمَنَ
walau aamana
dan sekiranya beriman
بِاللهِ
billaahi
kepada Allah
وَتُؤْمِنُوْنَ
watu’minuuna
dan kamu beriman
عَنِ الْمُنكَرِ
anil munkari
dari yang mungkar
لَّهُمْ
lahum
bagi mereka
خَيْرًا
khairan
lebih baik
لَكَانَ
lakaana
tentulah itu
اَهْلُ الْكِتٰابِ
ahlul kitaabi
ahli kitab
الْفٰسِقُونَ
-lfaasiquuna
Orang-orang yang fasik
وَاَكْثَرَهُمُ
wa aktsaruhumu
dan kebanyakan mereka
الْمُؤْمِنُونَ
-lmu’minuuna
Orang-orang yang beriman
مِنْهُمُ
minhumu
di antara mereka


B.     Tafsir ayat
Ayat ini menegaskan bahwa kamu (umat islam) menjadi sebaik-baik umat yang dikeluarkan antara manusia di dunia ini jika kamu memenuhi tiga syarat: amar Ma’ruf, nahi Munkar dan iman kepada Allah. Ketiga syarat inilah yang menjadi sebab kamu disebut yang sebaik-baik umat. Kalau ketiganya tidak ada maka kamu tidak disebut sebaik-baik umat.
Ketiga dasar yang membawa mutu kebaikan isi pada hakekatnya adalah satu. Pertama Amar Ma’ruf, kedua Nahi Munkar dan ketiga yakni beriman kepada Allah adalah dasarnya yang sejati. Apabila telah meyakini atau menimani Allah maka akan timbul kebebasan jiwa, kemudian kebebasan kemuan dan kebebasan dalam menyatakan pikiran.
Ayat ini merupakan satu, dan tidak terpotong-potong sehingga dalam memahami atau membacanya tidak boleh sepotong-potong.
1.      Kamu adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan Tuhan untuk seluruh manusia.
2.      (Karena) kamu menyuruh yang Ma’ruf.
3.       Dan kamu melarang perbuatan yang munkar.
4.      Serta kamu percaya kepada Allah.
Waw artinya Dan yang mempersambungkan antara keempat bagian kalimat itu, menyebabkan hubungannya erat satu dengan yang lain. Apabila ketiganya itu ada, pastilah mereka mencapai kedudukan yang tinggi di antara pergaulan manusia.
Suatu masyarakat yang mencapai martabat setinggi-tingginya dalam dunia ini, jika mempunyai kebebasan. Dan inti sari kebebasan ada tiga hal:
1.      Kebebasan kemauan (iradat).
2.      Kebebasan menyatakan pikiran.
3.      Kebebasan jiwa dari keraguan.
Apabila seseorang mempunyai kebebasan iradat, kemauan, niscaya orang tersebut berani menjadi penyeru dan pelaksana perbuatan yang Ma’ruf.
Dalam memahami ayat ini, hendaklah diambil mafhumnya dari bawah:
1.      Beriman kepada Allah. Itulah awal permulaan kebebasan jiwa.
2.      Berani melarang yang munkar. Itulah akibat pertama beriman kepada Allah.
3.      Berani menyeru dan memimpin sesama manusia kepada yang ma’ruf.

C.     Ayat dan Hadist pendukung

Allah membarithaukan mengenai umat nabi Muhammad, bahwa mereka adalah sebaik-baik umat.
Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, mengenai ayat ini (“kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia”), ia berkata: “Kalian adalah sebaik-baik manusia untuk manusia lain. Kalian datang membawa mereka dengan belenggu yang melilit di leher mereka sehingga mereka masuk islam.”
Demikian juga yang dikatakan Ibnu ‘Abbas, Mujahid al-‘Aufi, ‘Ikrimah, ‘Atha, dan Rabi’ bin Anas. Sehingga Allah kembali menurunkan kalimat berikutnya (“menyuruh kepada yang Ma’ruf dan mencegah dari yang Munkar, serta beriman kepada Allah.”)
Iman Ahmad meriwayatkan dari Durrah binti Abu Lahab, ia berkata: “Ada seseorang berdiri menghadap Nabi, ketika itu beliau di mimbar, lalu orang itu berkata: ‘Ya Rasulullah, siapakah manusia terbaik itu?’ Beliau bersabda: ‘sebaik-baik manusia adalah yang paling hafal al-Qur’an, paling bertakwa kepada Allah, paling giat menyeru berbuat yang ma’ruf dan paling gencar mencegah kemungkaran dan paling rajin bersilaturahmi di antara mereka.’” (HR. Ahmad)
An-Nasa’i dalam kitab Sunnan dan al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak meriwayatkan dari hadits Samak, dari bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas, mengenai firman Allah yang pertama tadi. Dia berkata: “mereka itu adalah orang-orang yang berhijrah bersama Rasulullah dari Makkah menuju Madinah.”
Yang benar bahwa ayat ini bersifat umum mencakup seluruh umat pada setiap generasi brdasarkan tingkatannya. Dan sebaik-baik generasi mereka adalah para sahabat Rasulullah, kemudian yang setelah mereka, lalu generasi berikutnya. Sebagaimana firman-Nya, dalam ayat yang lain وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ. 
“dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat islam), ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia.”(Q.S. Al-Baqarah: 143)


D.    Kajian keilmuan
Allah Subhanahu Wata’ala telah menjelaskan di dalam kitab suci Al-Qur’an tentang kedudukan dan peranan orang-orang mu’min dalam kehidupan mereka di atas muka bumi ini:
كنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُو ن بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْ نَ عَنِ الْمُن كَرِ وَتُؤْمِنُو نَ بِالّلهِ
“Kamu adalah sebaik-baik ummat yang dilahirkan untuk (kemaslahatan) manusia, kamu MENYURUH (mengajak) kepada yang ma’ruf (kebaikan) dan kamu MENCEGAH dari kemungkaran serta kamu BERIMAN kepada Allah”. (Surah Ali-’Imran: Ayat 110).
Dalam ayat di atas Allah menyatakan ketinggian dan kemuliaan orang-orang Mu’min beserta sifat-sifat yang menyebabkan mereka layak mendapat gelar sebagai “Khaira Ummah” (Ummat Yang Terbaik) yaitu:
1.      Mereka menyuruh (mengajak) manusia kepada perkara-perkara yang ma’ruf (kebaikan).
2.      Mereka mencegah (melarang) manusia dan melakukan kemungkaran, dan
3.      Dalam usaha-usaha tersebut mereka sentiasa menjaga dan memelihara diri mereka dengan mentaati segala perintah-perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya.
Secara jelas ayat di atas memperlihatkan betapa usaha-usaha da’wah menyeru manusia supaya menaati perintah Allah dan menjauhi laranganNya adalah usaha-usaha yang sangat tinggi lagi mulia bahkan Allah memerintahkan agar orang-orang mu’min bersatu dan menggemblengkan tenaga untuk melaksanakannya.
FirmanNya: Bagaimana Kita Menyeru Kepada Islam
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةُ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ {104}
 “Dan hendaklah ada di antara kamu, satu golongan yang mengajak (manusia) kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf,melarang dari kejahatan dan merekalah orangorang yang beuntung” (Surah Ali-’Imran : Ayat 104)
Tuntutan dan suruhan ini sering kita temui di dalam Kitab Suci Al-Qur’an di mana Allah Subhanahu Wa Ta’ala memperingatkan RasulNya dan orang-orang Mu’min supaya melazimkan diri sebagai orang yang sentiasa menyeru dan mengajak manusia kepada memahami dan menghayati ajaran Islam. Di antaranya Allah berfirman:
يَاأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَآأُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللهَ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ {67}
“Wahai Rasul, sampaikanlah apa-apa yang telah diturunkan kepadamu oleh Tuhanmu kerana kalau engkau tidak lakukan (demikian) tidaklah (dikatakan bahawa) engkau telah menyampaikan risalahNya dan Allah akan melindungi mu dari (kejahatan) manusia.” (Surah Al-Ma’idah : Ayat 67)
Allah Subhanahu Wata’ala mendahulukan tugas dan tanggungjawab da’wah ini ke atas RasulNya, agar kaedah-kaedah da’wah ini diperlihatkan kepada orang-orang Mu’min. Kemudian barulah Allah memperingatkan pula orang-orang Mu’min supaya apabila diseru oleh Allah dan RasulNya untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban agama, maka mereka hendaklah segera menyambutnya kerana seruan Allah dan Rasul itu adalah seruan yang menghidupkan hati dan jiwa mereka.
Allah menyeru:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا للهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ {24}
 “Wahai orang-orang yang beriman, sambutlah seruan Allah dan seruan Rasul, apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang menghidupkan kamu dan ketahuilah bahawa sesungguhnya Allah mendinding antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepadaNyalah kamu akan dikumpulkan.” (Surah Al-Anfal Ayat 24)
Bagaimana Kita Menyeru Kepada Islam
FirmanNya lagi:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا {21}
 “Sesungguhnya adalah pada diri Rasulullah itu sebaik-baik suri tauladan bagi kamu (untuk diikuti), yakni bagi orang yang mengharapkan (keredhaan) Allah dan (kemuliaan hidup) di Akhirat dan orang yang banyak mengingati Allah” (Surah Al-Ahzab Ayat 21)
Demikian keterangan-keterangan yang jelas dari Al-Qur’an tentang kewajiban da’wah yang diperintahkan oleh Allah ke atas RasulNya dan orangorang Mu’min. Sekali pun menghadapi suasana peperangan kita tetap dituntut membuat persiapan-persiapan yang rapi agar usaha-usaha da’wah kita itu akan disusuli dengan kejayaan.
FirmanNya:
وَمَاكَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَآفَةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِنهُمْ طَآئِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ {122}
 “Tidak sepatutnya bagi orang-orang Mu’min itu pergi semuanya (ke medan peperangan). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan dari mereka beberapa orang untuk memperdalamkan ilmu pengetahuan dalam agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga diri” (Surah Al-Taubah : Ayat 122)
Dengan mengambil pedoman-pedoman Rabbani, kita mengharapkan saff Harakah Islamiyyah dan da’wah akan dapat berjalan dengan cara yang penuh hikmah dalam usaha-usahanya menyeru manusia untuk kembali kepada Islam. Semoga kita termasuk di dalam golongan yang mematuhi perintah Allah. ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ “Serulah manusia ke jalan TuhanMu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (Surah Al-Nahl: Ayat 125). Oleh kerana da’wah merupakan satu lapangan yang sangat penting dalam kehidupan ummat Islam, ia memerlukan kepahaman dan persediaan-persediaan yang berencana serta berperingkat-peringkat.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Berdasarkan pemaparan mengenai surat Ali Imran ayat 110 di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap manusia mempunyai tanggung jawab dalam hidupnya untuk saling menyerukan dalam kebenaran dan saling mengingatkan atau memperingatkan dalam keburukan dan dilandasi dengan keimanan kepada Allah karena pada hakekatnya manusia telah diciptakan Allah dengan begitu sempurna dan kepada umat islam diberi keutamaan dari pada umat yang lain jika seseorang itu mampu mengamalkan untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan saling menegur jika ada keburukan. Namun, jika umat islam tidak melaksanakan itu maka dia tidak termasuk dalam sebaik-baik umat karena yang termasuk sebaik-baik umat adalah seseorang yang mampu mengamalkan Amar Ma’ruf, Nahi Munkar dan beriman kepada Allah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar